Melukis Momentum di Pamfest Expo ’26. Perhelatan akbar Milad ke-44 Institut Agama Islam (IAI) YPBWI Surabaya, yang bertajuk Pamfest Expo ‘26, telah mengukuhkan diri sebagai "kawah candradimuka" bagi talenta-talenta muda terbaik di wilayah Gerbangkertosusila. Di tengah persaingan sengit yang melibatkan pelajar dari enam wilayah strategis—Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan, kehadiran SMA Islam Parlaungan muncul sebagai sebuah pernyataan sikap. Partisipasi mereka bukan sekadar rutinitas kompetisi, melainkan manifestasi nyata dari filosofi "Merajut Kreativitas, Membangun Generasi Berprestasi."
Suasana di halaman kampus IAI YPBWI Surabaya sore itu bergetar oleh energi kompetisi yang sehat. SMA Islam Parlaungan berhasil mencuri perhatian melalui dua pencapaian gemilang yang menyinergikan aspek religi dan estetika: keberhasilan Ayla Maulidya K. meraih Juara 2 Dai serta keberhasilan tim yang digawangi oleh Sania, Mitha, Safira, dan Rifda dalam mengamankan trofi Juara 2 Tari Kreasi. Keberanian mereka bersinar di level provinsi membuktikan bahwa kematangan mental dan karakter mampu mengubah potensi menjadi prestasi yang menginspirasi.
Ayla Maulidya K.: Menyuarakan Akhlak di Tengah Arus Digital. Dalam panggung dakwah, suara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen otoritas intelektual. Saat Ayla Maulidya K. melangkah ke podium, suasana yang bising seketika berubah menjadi sunyi penuh penghayatan. Dengan pembukaan salam yang ia lukiskan "lebih hangat dari matahari dan lebih sejuk dari embun pagi," Ayla menunjukkan poise atau ketenangan seorang orator ulung yang mampu menggetarkan nurani audiens. Ayla membedah urgensi menjaga jati diri melalui pendekatan teologis yang tajam. Mengacu pada Surat Ar-Rum: 54, ia mengingatkan bahwa masa muda adalah fase kekuatan di antara dua kelemahan. Dalam narasinya yang menyentuh, ia menekankan bahwa "digital battlefield" masa kini tidak lagi membutuhkan pedang, melainkan keteguhan iman dalam menggenggam layar di tangan. Bagi SMA Islam Parlaungan, pesan ini adalah cermin dari pendidikan karakter yang moderat, di mana teknologi dirangkul namun akhlak tetap menjadi kompas utama.
Harmoni dan Kolektivitas: Estetika Tari Kreasi Sania, Mitha, Safira, dan Rifda. Jika Ayla berjuang melalui harmoni vokal dan retorika, maka tim Tari Kreasi yang terdiri dari Sania, Mitha, Safira, dan Rifda menerjemahkan semangat yang sama ke dalam harmoni fisik. Seni tari bagi para siswi ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk disiplin kolektif dan ekspresi diri yang megah. Kemenangan sebagai Juara 2 Tari Kreasi tingkat SMA/SMK/MA sederajat se-Gerbangkertosusila menjadi bukti ketangkasan mereka dalam meramu tradisi ke dalam konteks modern. Panggung utama Pamfest Expo ‘26 seketika berubah menjadi lautan warna merah dan emas yang vibran saat tim ini tampil. Mengenakan kostum tradisional yang dimodifikasi secara apik, lengkap dengan mahkota ornamen bergaya "Siger" yang berkilau, Sania dan kawan-kawan menyuguhkan formasi yang simetris dan penuh tenaga. Setiap gerak keluwesan tangan dan ketepatan langkah kaki mencerminkan kriteria penilaian ketat dari panitia yakni Teknik Gerak, Penguasaan Panggung, Kreativitas Koreografi.
Menyongsong Generasi Emas yang Berkarakter. Kemenangan di Pamfest Expo ‘26 adalah kemenangan visi pendidikan yang utuh di SMA Islam Parlaungan. Dengan meraih Juara 2 di dua bidang yang kontras namun saling melengkapi, dakwah dan tari. sekolah ini telah membuktikan komitmennya dalam mencetak generasi yang cerdas pikirannya namun tetap indah akhlaknya. Harapan kita bersama adalah agar setiap bakat siswa terus mendapatkan panggung terbaik untuk berkembang, karena dari tangan-tangan kreatif inilah masa depan bangsa diletakkan. "Jangan jadi anak muda yang labil, banyak mau tapi hasilnya nihil. Jadilah anak muda yang terampil, harus belajar dan upgrading knowledge and skill." Semoga gema prestasi ini terus menjadi inspirasi bagi seluruh siswa untuk terus berkarya, berprestasi, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai akhlakul karimah sebagai identitas utama generasi emas bangsa.